Ngide: Hari Keluarga

“Keluarga Di Bawah Kapitalisme”

Oleh Zeni Tri Lestari (Kesos 2019)

Dilahirkan, tumbuh, berkembang, hingga menunggu tiba saatnya kita yang melahirkan. Siklus ini terus berlangsung dari awal peradaban manusia hingga entah kapan matinya (Tolong baca kalimat ini sambil mendengarkan Feast – Peradaban, terima kasih). Seorang anak dalam masa berkembang, tidak sekali dalam hidupnya muncul pemikiran mengapa ia dilahirkan ke dunia ini. Kritik dari orang-orang Marxist agaknya bisa menjawab hal itu. Jika beruntung, barangkali anak menjadi keturunan yang mewariskan properti orang tua yang mana di dalamnya terjadi kekalahan perempuan atas kendali seksual mereka yang diambil alih oleh laki-laki dan reproduksi hanyalah instrumen produksi untuk menjaga dan mengembangkan kapital atau aset yang keluarga miliki. Atau lain lagi, anak menjadi instrumen yang melanggengkan kapitalisme melalui sosialisasi nilai dan kepercayaan bahwa sistem kapital yang senjang ini memang adil dan tidak dapat diubah keadaannya. Atau malah, anak menjadi unit konsumeris yang tidak pernah puas dan bahagia atas kehidupan, lalu berusaha mengisi kekosongan itu dengan berbagai barang-barang, sebagaimana yang diinginkan oleh para kapitalis. Setidaknya, tiga alasan itulah yang dipercaya oleh Marxis mengenai fungsi keluarga dalam masyarakat kapitalisme.

Terdengar sangat sinis? Well, terkadang kita tidak bisa terlalu sinis terhadap orang-orang yang sinis (atau skeptis) akan kehidupan, sebab bisa jadi pemikiran itu memunculkan ide dalam penerbangan di pesawat akan hadirnya pelampung atau parasut untuk menyelamatkan diri dari kecelakaan. Namun, tampaknya ada hal lain yang cukup menarik untuk turut hadir dalam pembahasan ini, yakni pandangan Marxis akan opresi yang dialami perempuan dikritik oleh feminis marxis yang meyakini bahwa opresi perempuan dalam keluarga itu hadir dari laki-laki juga kapitalisme (Benston, 1972). Bagaimana tidak, perempuan melahirkan dan menghasilkan tenaga kerja sambil melakukan pekerjaan domestik yang tidak dibayar dan tidak bernilai ekonomi, serta terus menerus menurun pada generasi selanjutnya. Belum lagi perempuan bersuami sering kali menghadapi suami yang kian muak dan frustasi, sebab menurut Ansley (dalam Thompson, 2015),  kapitalisme mengalienasi dan mengeksploitasinya melalui kerja, menghilangkannya dari kenikmatan duniawi, dan kemudian melampiaskannya kepada istri hingga banyak terjadi kekerasan domestik pada perempuan.

Lalu, apa relevansinya kedua perspektif di atas bagi seorang pembelajar Ilmu Kesejahteraan Sosial? Tentu dapat berkaitan dengan banyak hal. Berjibaku dengan ilmu dengan cakupan bahasan yang amat luas dan umum, agaknya mahasiswa Kesos memang sudah harus terbiasa dengan bahasan pada berbagai bidang ilmu. Kondisi kebutuhan yang sejahtera dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan sosial sudah seharusnya mengkaji keluarga; sebagaimana ia adalah unit pertama yang menjadi tumpuan bagi pemenuhan kebutuhan dasar selain pasar dan kemudian pemerintah atau negara. Silahkan berkaca pada diri sendiri, siapa yang sedari lahir hingga kini telah menanggung dan memenuhi kebutuhan dasar selain keluargamu, apapun jenis dan bentuknya.

Kapitalis yang rakus dan menginginkan benefit dengan biaya sesedikit mungkin pada akhirnya mendorong keluarga dengan tenaga produktif untuk bertanggung jawab memberi makan, memberi pakaian, dan kebutuhan dasar lain atas mereka yang tidak produktif–anak, lanjut usia, disabilitas, dan lainnya yang disatukan dan tanggung jawab itu dipayungi oleh keluarga. Pun ketika negara hadir, memberikan program dan kebijakan untuk mendorong kesejahteraan tadi, nyatanya perempuan dalam keluarga dengan peran tradisional yang bergantung secara ekonomi atas laki-laki mengartikan bahwa keluarga belum benar-benar setara dan belum menyelesaikan segala masalah yang ada. Pernyataan ini telah dibuktikan dengan realitas dan studi yang menunjukkan bahwa program andalan kesejahteraan untuk keluarga yang amat sering terdengar di mata kuliah, yakni Program Keluarga Harapan (PKH) masih bias gender dan melanggengkan peran tradisional perempuan tanpa melibatkan laki-laki untuk mendorong kesejahteraan keluarga (Nainggolan, 2019). 

Intervensi pada program tersebut belum komprehensif, belum menyentuh tiap-tiap anggota, dan terus memperkuat relasi gender antara suami dan istri yang tidak setara. Padahal, perilaku menuju kesejahteraan tentu tidak dapat tercapai jika hanya sebagian pihak yang ikut dan berpartisipasi di dalamnya. Alhasil, program ini kemudian menjadi tidak optimal (Nainggolan, 2019).  Lagi, oleh kapitalisme kita dihadapkan pada kenyataan bahwa keluarga dalam kapitalisme bak jatuh tertimpa tangga; laki-laki tertindas struktur yang menindas perempuan berlangsung dari generasi ke generasi. Pada akhirnya, kesejahteraan sosial seharusnya bisa berbuat lebih baik dan bertindak lebih jauh atas apa yang menjadi permasalahan bagi keluarga yang terkungkung dalam masyarakat kapitalis. Seperti apa dan bagaimana, nampaknya saya harus lebih banyak mendengar mas Bandi dan ceramah-ceramahnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Benston, Margaret. (1969). Ekonomi politik pembebasan perempuan. Ulasan Bulanan. Diakses melalui https://edisciplinas.usp.br/pluginfile.php/3960189/mod_resource/content/1/Benston(1969)%20PoliticalEconomyofWomensLiberation-1969-MargaretBenston.pdf pada 10 Mei 2021. 

Chae, H. (2014). Marx on the family and class consciousness. Rethinking Marxism, 26(2). 

Nainggolan, T. (2019). ASPEK GENDER DALAM PROGRAM KELUARGA HARAPAN. Sosio Informa, 5(1).

Papadopoulos, T., & Roumpakis, A. (2017). Family as a Socio‐economic Actor in the Political Economies of East and South East Asian Welfare Capitalisms. Social Policy & Administration, 51(6), 857-875.

Socialist Alternative.  Family Under Capitalism. Diakses melalui https://www.socialistalternative.org/it-doesnt-have-to-be-like-this/the-family-under-capitalism/ pada 10 Mei 2021.

Thompson, C.H. (2013). Feminist views of the family (Marxist and Radical). Diakses melalui https://sociologytwynham.com/2013/06/13/feminist-views-of-the-family-2/ pada 10 Mei 2021. 

Thompson, Karl. (2015). Marxist Feminist Perspectives on Family Life. Diakses melalui https://revisesociology.com/2015/11/30/marxist-feminist-perspectives-on-family-life/ pada 10 Mei 2021.